Rabu, 25 November 2009

PERANAN SUMBERDAYA PERIKANAN DALAM MENDUKUNG PEREKONOMIAN

Potensi sumberdaya Indonesia yang lengkap, memberikan peluang yang besar bagi para anak bangsa untuk mengelolanya atau menciptakan lapangan kerja guna meningkatkan perekonomian karena setiap pengelolaan ataupun penggunaan sumberdaya dapat diukur nilai ekonominya. Suatu sumberdaya dapat meningkatkan perekonomian apabila sumberdaya tersebut dapat ditinjau dari segi ekonominya

Secara garis besar sumberdaya alam dapat dibagi menurut sifatnya menjadi tiga bagian, yaitu: sumberdaya alam yang dapat diperbaharui (renewable resources), sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui (non renewable resources) dan sumberdaya alam yang mempunyai sifat gabungan antara yang dapat diperbaharui dengan tidak dapat diperbaharui.

Penggolongan lain sumberdaya alam yaitu dapat dilihat dari sudut penguasaan (property righ). Sumberdaya alam yang tidak dimiliki oleh perorangan (private property resources) dan sumberdaya milik umum (common property resources). Sumberdaya milik umum memiliki kecenderungan untuk segera habis atau punah karena adanya tragedy dari pemilikan secara bersama itu (tragedy of the common). Apabila seseorang tidak mengambil sumberdaya itu, maka orang lain yang akan mengambilnya sehingga daripada sumberdaya itu habis diambil oleh orang lain, maka setiap orang cenderung untuk segera mengambil saja dan hal ini jelas akan mempercepat deplesi. Pengertian deplesi disini adalah suatu cara pengambilan sumberdaya alam secara besar-besaran, yang biasanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan akan bahan mentah.

Kebijakan Agribisnis Sumberdaya Perikanan

Peluang bisnis kelautan dan perikanan setidaknya dapat dilihat dari dua faktor, yakni (1) faktor internal berupa potensi sumberdaya kelautan dan perikanan, potensi sumberdaya manusia, teknologi, sarana dan prasarana serta pemasaran, dan(2) faktor eksternal yang berkaitan dengan aspek permintaan produk perikanan dan syarat-syarat yang menyertai permintaan tersebut dalam persaingan dengan daerah atau negara lain (Erwadi dan Syafri, 2003).

Secara umum perdagangan hasil perikanan dunia yang berasal dari hasil penangkapan memperlihatkan nilai pertumbuhan impor dunia selama periode 1994- 1997 yang meningkat rata-rata 1.23% per tahun dalam volumenya dan 3.8% pertahun dalam nilainya. Tahun 1997 kebutuhan impor dunia mencapai volume 21 juta ton dengan nilai US$ 56 milyar. Tingkat permintaan ikan domestik dan ikan ekspor dari total produksi ikan Indonesia mencapai 60.25% dan 8.13%. Di masa mendatang diperkirakan permintaan dan harga ikan dunia akan meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk, kualitas hidup dan pergeseran pola konsumsi masyarakat serta faktor sarana-prasarana perikanan yang mendukung.

Aspek Ekonomi Sumberdaya Perikanan

Pengembangan ekonomi perikanan pada dasarnya berbeda dengan ekonomi produksi pertanian umumnya. Perbedaan utama terletak pada hak kepemilikan sumberdaya. Ekonomi pertanian memiliki ketergantungan yang tinggi pada penguasaan lahan pertanian yang mengenal hak milik pribadi (private property}, sementara perikanan memiliki ketergantungan yang tinggi pada penguasaan teknologi penangkapan ikan dan sumberdaya alam milik umum (common property). Christy dan Scott (1966) mengemukakan bahwa, karena sifatnya yang open access, sumberdaya laut dapat digunakan oleh lebih dari satu individu (satuan ekonomi) atau tidak ada seorangpun yang berhak khusus untuk menggunakan sumberdaya tersebut dan tidak seorangpun yang dapat melarang untuk memanfaatkannya. Pengguna boleh masuk secara tak terbatas untuk bersaing yang bisa mengantarkan pada over eksploitasi (overfishing) dan penggunaan sumberdaya yang inefisien. Hal ini disebabkan karena nelayan yang dalam perikanan bebas terbuka (open access fishery), akan tetap memilih bertahan di sektor perikanan selama biaya rata-rata sama dengan penerimaan rata-ratanya. Hal ini bertentangan dengan perilaku maksimisasi profit dari seorang produsen (firm) yang umum diterangkan dalam teori ekonomi mikro, dimana produsen berusaha untuk menyamakan penerimaan marjinal dengan biaya marjinalnya.

Fenomena ekonomi menunjukkan bahwa terdapat beberapa peubah endogen maupun eksogen yang membedakan model ekonomi pertanian dengan ekonomi perikanan, yakni : (1) kepemilikan asset, (2) daerah produksi (penangkapan ikan) yang berbeda, (3) sistem bagi hasil dalam pengaturan upah, dan (4) peubah kebijakan. Sehubungan dengan hal tersebut, kemampuan nelayan untuk memaksimumkan hasil tangkapan ikan ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain : (1) modal kerja atau investasi (perahu/motor dan jenis alat tangkap), (2) potensi sumberdaya perairan atau daerah operasi penangkapan ikan di laut, (3) hari kerja efektif melaut, (4) kemudahan untuk memasarkan hasil tangkapan dengan harga yang wajar, dan (5) biaya operasi/produksi penangkapan ikan (Smith, 1987). Kepemilikan asset kapal rumahtangga nelayan pada usaha penangkapan ikan adalah analog dengan penguasaan luas areal lahan pada ekonomi rumahtangga petani yang lazim digunakan untuk pemodelan ekonomi rumahtangga petani. Mengingat besarnya tonage (ukuran mesin) kapal berhubungan langsung dengan produktifitas dan produksi tangkapan, maka untuk menduga produksi nelayan, disamping didasarkan atas teknologi alat tangkap dan jumlah kapal, juga ditentukan oleh tonage kapal yang dimiliki (Muhammad, 2002). Kepemilikan asset (kapal) dipengaruhi oleh penerimaan atau pendapatan melaut dan non-melaut, jumlah tenaga kerja dan jumlah sarana produksi (Aryani, 1994 dan Reniati, 1998).

Namun demikian, modernisasi dalam kepemilikan asset perikanan seringkali menyebabkan juga berbagai permasalahan, antara lain : ketimpangan antar nelayan (buruh dengan pemilik kapal) karena kesempatan untuk memperoleh bantuan teknologi dan modal seringkali bias pada segelintir nelayan (Kusnadi, 2000). Oleh karena itu pembangunan perikanan yang diharapkan sebagai sumber pertumbuhan baru, lebih diarahkan pada penyediaan sarana dan prasarana produksi antara lain modernisasi jenis alat tangkap dan motorisasi armada penangkapan ikan. Motorisasi berdampak pada mobilitas nelayan lebih cepat dan frekuensi melaut yang lebih tinggi, sehingga mempengaruhi hasil tangkapan ikan. Selain itu, kondisi ini menyebabkan nelayan dapat menentukan daerah operasi penangkapan ikan dan mampu meningkatkan hasil tangkapan ikan (produksi) pada saat musim dimana kemampuan nelayan untuk melaut sangat terbatas (Allsopp, 1985).

Analisis ekonomi dari berbagai alternatif manajemen perikanan telah dicoba dilakukan di Malaysia yang menggunakan model Schaefer. Model kuadratik dari fungsi penangkapan ikan yang digunakan, memasukkan variabel bebas capital intensive dan labor intensive dari berbagai jenis alat penangkapan ikan dari berbagai wilayah perairan. Hasil menunjukkan bahwa usaha penangkapan ikan dengan capital intensive dengan menggunakan teknologi moderen lebih efektif daripada usaha yang menggunakan labor intensive dengan teknologi tradisional. Kebijakan pajak akan membawa ke penggunaan sumberdaya yang kurang optimal, dan kebijakan subsidi akan mempercepat pengurasan sumberdaya ikan. Sementara itu, pembatasan kapal akan memperpanjang potensi sumberdaya ikan dan mampu membawa peningkatan rent ekonomi produksi lestari untuk tujuan peningkatan pendapatan dan penyerapan tenaga kerja (Mustapha, 1984 dalam Soepanto, 1999).

Optimasi pemanfaatan sumberdaya perikanan dengan tujuan untuk mengetahui jumlah alat tangkap, kapal penangkap ikan yang seharusnya dioperasikan guna mensejahterakan nelayan dilakukan dengan pendekatan Multiobjective Goal Programming. Pertimbangannya bahwa hasil penelitian__ diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya perikanan. Kebutuhan yang dimaksud yakni optimalisasi total hasil tangkapan ikan, jumlah hari kerja operasi, penggunaan BBM dan jumlah alat tangkap optimal (Panjaitan et al., 1995). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sasaran pengendalian hasil tangkapan, pengendalian jumlah hari operasi, pengendalian penggunaan BBM dan pengendalian pemakaian jumlah dan luas jaring dapat dicapai sesuai target. Selanjutnya terdapat unit penangkapan ikan yang perlu ditambah adalah Jaring Insang, Trammel Net, Bagan Perahu dan Tonda, sedangkan unit penangkapan ikan dikurangi adalah Pancing Ulur.

Pengelolaan sumberdaya perikanan dengan menggunakan multiobjective goal programming model juga dilakukan dengan memasukkan faktor profit maksimum, penyerapan dan keselamatan tenaga kerja, ketersediaan input bagi industri perikanan, pembatasan penangkapan dan dampak industri perikanan terhadap perdagangan ikan non komersil. Faktor-faktor tersebut merupakan tujuan pengelolaan perikanan yang ingin dicapai targetnya (Pascoe and Mardle, 2001; Kjoersgaard and Andersen, 2003). Sementara Rawung (1999) dan Ihsan (2000) melakukan penelitian tentang pendugaan potensi sumberdaya (MSY) dengan menggunakan model Schaefer yang dikombinasikan dengan optimasi pemanfaatan sumberdaya perikanan yang menggunakan metode analisis program linear. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan sumberdaya perikanan karang dengan menggunakan enam alat tangkap ikan ternyata efektif untuk digunakan dan tingkat pemanfaatan sumberdaya perikanan masih dibawah tingkat MSY.

Pemecahan Masalah Sumberdaya Perikanan Tangkap

Indonesia memiliki sumberdaya laut yang besar baik ditinjau dari kuantitas maupun keragamannya. Keragaman sumberdaya laut untuk jenis ikan diketahui terdapat 8 500 jenis ikan pada kolom perairan yang sama, 1 800 jenis rumput laut dan 20 000 jenis moluska. Keragaman sumberdaya laut tersebut merupakan salah sumber pertumbuhan baru perekonomian, jika pengelolaannya dilakukan secara optimal. Terlebih lagi dengan akan diberlakukannya liberalisasi perdagangan di abad 21 ini, maka terbuka peluang produk-produk perikanan untuk dapat bersaing dalam perdagangan internasional sekaligus dapat menghasilkan devisa Negara

Keragaman sumberdaya laut merupakan sumber protein hewani yang tinggi khususnya untuk asam amino tak jenuh, atau dikenal dengan kandungan OMEGA-3 yang sangat bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan jaringan otak Sektor perikanan juga merupakan salah satu alternatif dalam penyediaan lapangan kerja di saat semakin sempitnya lahan pertanian di wilayah daratan dan semakin tingginya persaingan tenaga kerja di bidang industri dan jasa. Potensi perikanan yang cukup besar di era otonomi daerah membuka peluang untuk dikembangkan guna meningkatkan penyediaan lapangan kerja (Dahuri, 2001).

Monintja (1987) mengemukakan bahwa pengembangan usaha perikanan tangkap secara umum dilakukan melalui peningkatan produksi dan produktivitas usaha perikanan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pendapatan petani dan nelayan, Produk Domestik Bruto, devisa negara, gizi masyarakat dan penyerapan tenaga kerja, tanpa mengganggu atau merusak kelestarian sumberdaya perikanan. Aspek yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan usaha perikanan yakni aspek biologi, teknis (teknologi), ekonomis dan sosial-budaya. Secara biologis, sumberdaya perikanan memiliki kemampuan bertambah banyak maupun berkurang. Ketika penangkapan ikan diperairan dilakukan, maka akan terjadi perubahan stok ikan atau potensi sumberdaya perikanan. Besarnya perubahan persediaan sumberdaya perikanan dapat dilakukan dengan pendugaan sediaan (stock assessment). Metode yang menghasilkan pendugaan yang baik dan efisien adalah dengan menganalisis hubungan antara upaya tangkap (fishing effort) dengan hasil tangkapan per upaya (Catch Per Unit Effort = CPUE). Dari analisis tersebut akan diperoleh nilai sediaan (stock) dan potensi tangkapan lestari (MSY) yaitu jumlah berat tangkapan maksimum yang tidak membahayakan kelestarian sumberdaya perikanan (Sparre dan Venema, 1999). Diketahuinya nilai potensi sumberdaya, secara ekonomi maka dapat dijabarkan kombinasi jumlah unit usaha penangkapan yang dapat dikembangkan di suatu wilayah perairan.

Selama ini aspek biologi secara parsial telah mendapat perhatian yang cukup besar, sementara aspek ekonomi serta interaksi bioekonomi belum begitu diperhatikan. Interaksi bioekonomi bersifat dinamis, perubahan temporal yang terjadi pada faktor ekonomi akan menentukan pola dan dinamika pemanfaatan sumberdaya perikanan. Karena itu, untuk memperoleh manfaat yang optimum serta pengelolaan yang berkelanjutan, maka hubungan dinamis antara faktor biologi (sumberdaya perikanan) dan faktor ekonomi perlu diketahui.

Secara ekonomi, pengelolaan perikanan ditujukan untuk memaksimalkan pendapatan daerah. Pencapaian pendapatan maksimum, nelayan dihadapkan pada berbagai faktor pembatas, seperti potensi sumberdaya, harga input-output sumberdaya, tenaga kerja, modal, infrastruktur, faktor musim dan input penunjang lainnya. Untuk memecahkan masalah tersebut, maka aspek perencanaan dalam mengalokasikan sumberdaya yang tersedia harus dilakukan secara optimal, dengan pendekatan program linear (Linear Programming). Namun, pada kondisi tertentu, pengelolaan perikanan tidak hanya menekankan pencapaian tujuan pendapatan maksimum, akan tetapi juga mempertimbangkan pemenuhan permintaan ikan (ekspor dan konsumsi domestik) dan perluasan kesempatan kerja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar